Seiring bertambahnya usia, mudah sekali merasa kecewa dengan dunia ini.

Dunia ini penuh dengan kekecewaan dan mimpi yang tidak tercapai, berbeda sekali dengan dongeng yang kita baca atau tonton saat masih anak-anak.

Tapi bagaimana pendapatmu iika saya katakan bahwa setiap harimu bisa menjadi luar biasa, penuh inspirasi dan intrik?

Bagaimana jika saya bilang bahwa kamu tidak harus bergantung pada apa pun atau siapa pun untuk membuat hidupmu indah, tidak perlu sesuatu seperti "pangeran menawan" atau "benda-benda ajaib".

Semua itu tergantung pada cara kita memandang. 

Dan Al-Basar bukan hanya penglihatan kita, tapi juga melibatkan Baseerah: wawasan dan persepsi; memikirkan apa yang bisa dilihat mata dan mencari makna yang lebih dalam tentang hal ini.

Misalnya, Allah berfirman,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.” [‘Ali Imran: 190]

Dan,

"Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami di alam semesta dan di dalam diri mereka sendiri sampai jelas bagi mereka bahwa 'Al-Quran' ini adalah kebenaran." [Fussilat: 53]

Orang-orang yang berakal, para pencari kebenaran dari segala usia dan masa, melihat bumi dan langit melalui lensa yang berbeda karena mereka menyadari bahwa semua keindahan yang sempurna, harmonis dan teratur ini, diciptakan dengan tujuan – semua tidak diciptakan sia-sia.

Orang-orang beriman memandang lingkungan mereka dengan ekspektasi, kepercayaan, ketakutan, dan cinta yang berbeda karena mereka merasakan keberadaan Pencipta mereka melalui ciptaan. Mereka menganggap langit yang bertabur bintang, senyum cerah anak-anak, perubahan musim yang teratur, dan fisiologi mereka yang sempurna dan psikologi mereka yang kompleks, yang berada di luar kendali mereka, sebagai tanda-tanda keberadaan Tuhan mereka.

Bahkan berbagai peristiwa dalam hidup kita, baik yang menggembirakan maupun yang penuh tantangan, yang tidak pernah kita duga sebelumnya atau yang tidak bisa kita hindari, adalah sebuah tanda dari Allah: satu-satunya yang memiliki kekuatan sejati untuk membawa manfaat dan mencegah bahaya.

Jadi bagaimana pengetahuan ini bisa mengisi hidup kita dengan sukacita yang tiada tara?

Dengan menghubungkan kita dengan Allah.

Perenungan ini mengarah pada rasa syukur, kekaguman, cinta, dan pembalasan.

Seperti yang dinyatakan Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa tanda-tanda ini “membuktikan tentang Kebesaran, Kemampuan, Pengetahuan, Kebijaksanaan, Kehendak dan Rahmat Sang Pencipta.”

Allah telah menciptakan semua ini, setiap pertemuan dengan alam, semesta, atau dengan makhluk-Nya, dengan KeMahabenaran-Nya- Dia telah menciptakan semua ini bagi kita untuk menemukan-Nya dan mengenal-Nya.

Dan begitu kita mengenal-Nya, dan mencintai-Nya, maka kita tidak akan memiliki kesedihan atau ketakutan lagi, tidak ada masalah yang dapat mengalahkan kita karena kita memiliki Tuhan yang Lebih Besar - tidak ada perbuatan baik yang akan terlihat kecil karena ini tergantung untuk “Siapa” kamu melakukannya, dan tidak ada dosa akan tampak tidak berarti karena KeMahabesaran Dzat yang tidak kamu taati.

Mengasah cara kita memandang dunia ini membawa kita ke tingkat tertinggi dan terindah dalam beribadah kepada Allah yaitu Ihsan, yang akan kita bahas lebih lanjut.

Dari Hal Biasa Menjadi Keajaiban

Kagum akan hal-hal di sekitar kita tidak hanya bisa kita lakukan saat melakukan perjalanan ke tempat baru atau saat menikmati keindahan alam, baik saat kita melihat lautan yang sangat indah atau pemandangan menakjubkan dari puncak gunung. Kita masih dapat menemukan keajaiban dalam kehidupan sehari-hari kita jika kita mau mencarinya.

Saudara-saudaraku, kita tidak diciptakan hanya untuk menghabiskan sebagian besar hari kita di dalam ruangan empat sisi yang menyesakkan, baik itu kantor, dapur, atau kamar kita. Kita diciptakan untuk menjadi pengembara dan perenung, bukan hanya untuk relaksasi dan kesenangan kita sendiri, tetapi untuk menghubungkan kita lebih dalam dengan tujuan hidup kita.

Dan, tentu saja, kita harus bekerja dan melayani keluarga kita, tetapi jika ada waktu untuk melakukan banyak tugas, inilah saatnya!

Beristirahatlah dari layar laptopmu dan pandang ke luar jendela, renungkan apa yang kamu lihat di hadapanmu dan pikirkan tentang sebuah ayat dalam Al-Qur'an yang baru-baru ini menggetarkan hatimu atau pikirkan nama Allah yang terakhir kamu pelajari - praktekkan kontemplasi ini pada keadaanmu saat ini juga. - untuk apa pun yang sedang kamu hadapi secara internal atau eksternal.

Saat kamu memotong sayuran, kagumi warna dan teksturnya yang cerah, renungkan manfaat yang sangat banyak dari ketetapan Allah ini, dan saat kamu mengerjakan pekerjaan rumahmu, ucapkan dan rasakan "Alhamdulillah" atas kemajuan yang kamu buat.

Ucapkan "SubhanAllah" saat kagum pada pengetahuan yang menerangi hidup Anda. Baik itu hukum Fisika, Sejarah yang berulang, atau seluk-beluk kejiwaan manusia, semua yang kamu pelajari akan mengarahkan kepada Allah SWT, Pencipta dan Pengendali segalanya.

Al-Baseer dan melakukan Ihsan

Dalam Islam, kita juga memiliki konsep yang disebut Al-Muraqaba, menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Orang beriman tidak memiliki pandangan satu dimensi saja tentang realitas; kita melihat segala sesuatu dengan cahaya iman dan kepastian dalam Janji Allah.

Ketika kamu menjalani hidup dengan indra yang terbuka lebar, mencari hidayah di mana pun kamu berada, berusaha punya hubungan yang indah dengan Pencipta-mu dan Pencipta segala sesuatu yang kamu lihat, sentuh, cicipi, dan cium, maka dengan sendirinya kamu akan menyadari Dia ada dalam segala hal yang kamu lakukan.

Kamu ingat bahwa Allah adalah Al-Baseer- Dia melihat segala sesuatu yang bisa kita lihat dan juga yang tidak mampu kita lihat, seperti berbaliknya hati seseorang menuju iman atau aliran darah melalui pembuluh darah dan arteri.

Ketika kamu memiliki kesadaran yang tinggi tentang penglihatan Allah atasmu, tentang pengetahuan-Nya yang lengkap tentang apapun yang kamu katakan, lakukan, niatkan, dan inginkan, maka kamu mulai menyembah-Nya dengan ihsan (sempurna).

Dan kita mengetahui dari riwayat terkenal Sahih Bukhari dan Muslim,

“Ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Sesungguhnya Dia melihatmu meskipun kamu tidak melihat-Nya.”

Betapa melegakan mengetahui bahwa bahkan perbuatan baik sekecil apa pun yang kita lakukan tidak akan dilewatkan oleh Allah. Dan betapa malunya kita mengetahui bahwa tidak ada dosa atau pelanggaran yang pernah luput dari Mata Tuhan kita.

Jadi, kesadaran kita kepada Allah, Al-Baseer, didasarkan pada harapan dan ketakutan. Keseimbangan yang bermanfaat itu membawa kita kepada keridhaan dan pahala-Nya yang besar, bi'idhnillah.

Tidak Ada Yang Hilang

“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada di bawah pengawasan Kami.”

[ Surah Tur: 48]

Saudara-saudaraku, ingatkah doa yang kamu panjatkan kepada Allah dengan begitu khusyuk di bulan Ramadhan?

Kamu mungkin tidak melihatnya terkabul tepat di depan matamu seperti yang kamu bayangkan. Kamu mungkin merasa ada begitu banyak penghalang antara kamu dan apa yang diinginkan hatimu.

Tapi di sinilah kepercayaan kita pada yang gaib berperan. Kita yakin bahwa Allah tidak pernah melupakan setiap do'a yang kita buat, bahkan jika itu hanya terlintas dalam pikiran kita, dan kita juga tahu bahwa Allah tidak pernah membiarkan tangan yang kita angkat kepada-Nya saat berdoa kembali dalam keadaan kosong.

Ingatlah, Dia tempat kamu meminta, bebas dari kekikiran dan ketidakmampuan, Dia bebas dari tekanan atau ketidaksempurnaan. Dia tidak harus memberi apa yang kita minta kepada-Nya, tetapi Dia melakukannya karena Rahmat dan Kemurahan-Nya yang Maha Sempurna. Dia memberi kita lebih banyak dari yang kita minta.

Namun, kita perlu ingat bahwa Allah mengetahui dan melihat keadaan internal dan eksternal hamba-Nya tidak seperti yang lain.

Salah satu kata pengingat favorit saya adalah, “Kita hanya melihat pikselnya, tetapi Allah melihat gambar yang lebih besar.”

Allah melihat dan mengetahui lebih baik apa yang akan mendatangkan kebaikan bagimu dan kapan hal tersebut baik untuk diberikan kepadamu, baik di dunia maupun di akhirat.

Baik itu do'a yang terus kamu panjatkan atau amal jariyah yang kamu lakukan untuk diri sendiri, Allah melihat semuanya, besar dan kecil, dan Dia akan mengabulkan untukmu dan membalasmu dengan pahala besar atas semuanya.

Sebagai kesimpulan, terserah kita untuk memutuskan:

Apakah kita sedang mencari tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan penuh cinta dan kerinduan, di mana pun kita berada?

Apakah kita mempertimbangkan pandangan Allah pada kita daripada berfokus pada pandangan orang?

Apakah kita melakukan perbuatan baik sekecil apa pun dan yakin bahwa Allah melihat dan memberi pahala kepada kita?

Apakah kita terus berdoa, percaya bahwa Allah akan membukakan pintu bagi kita, bahkan jika kita belum bisa melihatnya?

Semoga Allah membimbing kita untuk benar-benar menjawab 'Ya!' untuk pertanyaan-pertanyaan ini dan memperindah hidup kita dengan terus belajar mencari-Nya, sambil tetap percaya bahwa Dia melihat kita dengan Penglihatan yang lengkap, sempurna, dan tak tertandingi.

Allahumma Aamiin